program diet sehat baju murah cewek

Saturday, March 19, 2011

makalah ( pengaruh lingkungan dan bawaan terhadap IQ seorang anak) part 2


BAB II
PEMBAHASAN
Kecerdasan merupakan salah satu anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia, dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasan, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin komplek, melalui proses berpikir dan belajar secara terus menerus.

Ø  Pengertian Intelligence Quotient (IQ)

intelligence quotient (iq) atau kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. kecerdasan ini merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan, dan mengolah  informasi menjadi fakta. iq juga dapat berarti kecepatan otak seseorang dalam menangkap dan mencerna sesuatu.
kecerdasan ini digagas pada sekitar tahun 1912 oleh william strern. digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada saat itu. kecerdasan ini terletak di otak bagian cortex (kulit otak). memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif atau biasa disebut kecerdasan intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh charles spearman (1904) dengan teori “two factor” atau thurstone (1938) dengan teori “primary mental abilities”.
dari kajian ini, menghasilkan pengelompokan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk intelligence quotient (iq) yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemempuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori idiot sampai dengan genius. istilah iq mula-mula diperkenalkan oleh alfred binet, ahli psikologi dari prancis pada awal abad ke-20. kemudian, lewis terman dari universitas stanford berusaha membakukan tes iq yang dikembangkan oleh binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi, sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes stanford binet.
Sampai sekarang metode tes IQ masih digunakan terutama seperti yang pertama kali diharapkan oleh Binet untuk keperluan membantu para pelajar yang memerlukan pelajaran tambahan dan perhatian ekstra. Namun sejarah membuktikan bahwa metode ini bergerak lebih jauh lagi dalam mempengaruhi aspek-aspek potensi setiap individu.
Saat itu IQ yang merefleksikan kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi-situasi praktis dalam hidupnya (aspek kecerdasan sebagai problem solving capability), dianggap sebagai satu-satunya komponen yang paling berharga. Pandangan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teori kecerdasan abad ke-19, paduan antara sains dan sosiologi yang dipelopori oleh sepupu Charles Darwin, Francis Galton, pada akhir abad ke-19 secara terpisah dari apa yang dikerjakan Binet saat itu. Ketika itu juga berkembang paham eugenios yang meyakini bahwa kecerdasan pada umumnya diwariskan lewat garis keturunan dan oleh karena itu orang-orang yang kurang cerdas harus didorong agar tidak melakukan reproduksi. Gerakan ini juga menggunakan IQ sebagai metode justifikasinya.
Metode ini lama kelamaan mendapat sorotan dari para ahli dan sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaharui, yaitu :
Pemahaman absolute terhadap skor IQ
Stave Hallam berpandangan bahwa pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bias diubah adalah tidak tepat. Penumuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya 58% merupakan hasil dari proses belajar.
Menurut Stave Hallam bahwa pandangan tersebut tidak tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam.
IQ (Intelligence Quotient). Namun pada saat ini, anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya bertumpu pada dimensi intelektual saja sudah tidak berlaku lagi. Selain IQ, manusia juga masih memiliki dimensi kecerdasan lainnya yaitu : kecerdasan emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan kecerdasan spiritual atau SQ (Spiritual Quotient). Kecerdasan manusia ternyata lebih luas dari anggapan yang dianut selama ini. Kecerdasan manusia bukanlah merupakan suatu hal yang bersifat dimensi tunggal semata, yang hanya bias diukur dari satu dimensi saja (dimensi IQ). Kesuksesan manusia dan juga kebahagiannya, ternyata lebih terkait dengan kecerdasan selain IQ. Menurut hasil penelitian, setidaknya 75% kesuksesan manusia lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan hanya 4% yang ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya (IQ).

Ø  Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat IQ pada seseorang

 FAKTOR BAWAAN DAN FAKTOR KETURUNAN
v  Pengaruh bawaan
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkorelasi tinggi (± 0,50). Di antara kembar korelasi sangat tinggi (± 0,90), sedangkan di antara individu-individu yang tidak bersanak saudara korelasinya rendah sekali (± 0,20).
Bukti lain dari adanya pengaruh bawaan adalah hasil-hasil penelitian terhadap anak-anak yang diadopsi. IQ mereka ternyata masih biokorelasi tinggi dengan ayah/ibu yang sesungguhnya (bergerak antara + 0,40 sampai + 0,50). Sedang korelasi dengan orangtua angkatnya sangat rendah (+ 0,10 sampai + 0,20).
Selanjutnya, studi terhadap kembar yang diasuh secara terpisah juga menunjukkan bahwa IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa walau lingkungan berpengaruh terhadap taraf kecerdasan seseorang, tetapi banyak hal dalam kecerdasan itu yang tetap tak berpengaruh.
v  Faktor lingkungan

  1. Pengertian
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Intelegensi). Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang).
B. Faktor-Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Inteligensi

1. Faktor Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan faktor pendukung terpenting bagi kecerdasan anak. Dalam lingkungan keluargalah anak menghabiskan waktu dalam masa perkembangannya. Pengaruh lingkungan rumah ini berkaitan pula dengan masalah:

Stimulasi:
Untuk menjadikan anak cerdas, faktor stimulasi menjadi sangat penting, baik yang berkaitan dengan fisik maupun mental/emosi anak. Orang tua dapat memberikan stimulasi sejak buah hatinya masih dalam kandungan, saat lahir, sampai dia tumbuh besar. Tentu saja dengan intensitas dan bentuk stimulasi yang berbeda-beda pada setiap tahap perkembangan. Contohnya ketika masih dalam kandungan, stimulasi lebih diarahkan pada indra pendengaran menggunakan irama musik dan tuturan ibu atau ayah. Setelah anak lahir, stimulasi ini diperluas menjadi pada kelima indra maupun sensori-motoriknya. Begitu juga stimulasi lainnya yang dapat merangsang dan mengembangkan kemampuan kognisinya maupun kemampuan lain.
Secara mental orang tua juga menstimulasi anak dengan menciptakan rasa aman dan nyaman sejak masa bayi. Caranya? Dengan mencurahkan kasih sayang, menumbuhkan empati dan afeksi, disamping memberi stimulasi dengan menanamkan nilai-nilai moral dan kebajikan secara konkret. Stimulasi yang diberikan secara efektif jelas dapat membuat potensi kecerdasan anak mencapai titik maksimal.

Pola Asuh:
Pola asuh orang tua yang penuh kasih sayang diyakini dapat meningkatkan potensi kecerdasan si anak. Sebaliknya, tidak adanya pola asuh hanya akan membuat anak bingung, stres, dan trauma yang berbuntut masalah pada emosi anak. Dampaknya, apa pun yang dikerjakannya tidak akan pernah membuahkan hasil maksimal.

2.      Faktor Social Economi

a) Sosial ekonomi keluarga
           Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis hingga pemilihan sekolah, dan kurang mendapatkan nutrisi yang memadai pula. Begitu juga sebaliknya dengan sosial ekonomi yang kurang memadai, seseorang juga kurang mendapatkan kesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang baik dan nutrisi yag baik.

b). Pendidikan orang tua
          Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.

3.       Faktor Education

          Yang pasti kecerdasan dalam diri anak tidak muncul begitu saja. Di luar potensi yang diberikan, sebetulnya cerdas juga berarti ketekunan memelajari sesuatu. Selain pendidikan yang diberikan orang tua di rumah, peran sekolah juga tidak kalah besar. Boleh dibilang sekolah merupakan rumah kedua bagi anak yang memungkinkannya mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai kehidupan.

Ø  Salah satu teori yang berhubungan dengan IQ adalah :

Teori konvergensi
Teori ini berasal dari ahli psikologi bangsa Jerman bernama William Louis Stern. Asumsi teori ini berdasar eksperimennya terhadap dua anak kembar yang memiliki sifat keturunan yang sama, namun setelah dipisahkan dalam linkungan yang berbeda anak kembar tersebut ternyata memiliki sifat yang berbeda.
Teori ini merupakan teori gabungan (konvergensi) dari teori nativisme dan teori empirisme.
Isi teori konvergensi: factor pembawaan maupun pengalaman atau lingkungan mempunyai peranan yang penting dalam mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu.
Perkembangan individu akan ditentukan baik oleh factor yang dibawa sejak lahir (factor endogen) maupun factor lingkungan, termasuk pengalaman dan pendidikan (factor eksogen).

FAKTOR ENDOGEN
Factor endogen adalah factor atau sifat yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga saat dilahirkan (factor keturunan atau factor bawaan). Faktor endogen meliputi factor-faktor sebagai berikut :
• Factor kejasmanian
Factor pembawaan yang berhubungan erat dengan keadaan jasmani pada umumnya tidak dapat diubah begitu saja, dan merupakan factor dasar dalam ciri fisik individu.
Factor kejasmanian misalnya warna kulit, warna dan jenis rambut, rupa wajah, golongan darah, dan sebagainya.

• Factor pembawaan psikologis (temperamen)
Temperamen merupakan sifat-sifat pembawaan yang erat hubungannya dengan struktur kejasmanian seseorang, yang berhubungan dengan fungsi fsiologik seperti darah, kelenjar-kelenjar, cairan-cairan lain yang terdapat dalam diri manusia.
Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak merupakan keseluruhan dari sifat seseorang yang nampak dalam perbuatannya sehari-hari, sebagai hasil bawaan maupun lingkungan. Temperamen bersifat konstan, sedangkan karakter atau watak bersifat tidak konstan, dapat berubah-ubah sesuai dengan pengaruh lingkungan.

• Factor bakat (aptitude)
Bakat bukanlah sesuatu yang telah jadi dan terbentuk pada waktu individu dilahirkan, tetapi baru merupakan potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke suatu arah. Supaya potensi tersebut teraktualisasikan dibutuhkan kesempatan untuk mengaktualisasikan bakat-bakat tersebut. Disinilah dukungan lingkungan yang baik diperlukan dalam perkembangan individu.

FAKTOR EKSOGEN
Factor eksogen adalah factor yang datang dari luar diri individu, berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan, dan sebagainya.
Perbedaan antara pendidikan dengan lingkungan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan. Pendidikan bersifat aktif, dijalankan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab, dan secara sistematik memang mengarahkan pada pengembangan potensi-potensi atau bakat-bakat yang ada pada individu sesuai dengan tujuan pendidikan.

Sedangkan pada umumnya lingkungan bersifat pasif dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan pengaruhnya secara paksa kepada individu. Lingkungan hanya menyediakan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu. Tergantung pada individu yang mau menggunakan kesempatan dan manfaat yang ada atau tidak. Sikap individu terhadap lingkungan dibagi dalam tiga kategori, yaitu:

1. Individu menolak lingkunagn jika tidak sesuaidengan yang ada dalam diri individu.
2. Individu menerima lingkungan jika sesuai dengan yang ada dalam diri individu.
3. Individu bersikap netral.

Lingkungan yang memiliki peranan dalam perkembangan individu terbagi dalam beberapa kategori, yaitu:
• Lingkungan fisik ; berupa alam seperti keadaan alam atau keadaan tanah serta musim.
• Lingkungan social ; berupa lingkungan tempat individu berinteraksi.
Lingkungan social dibedakan dalam dua bentuk :
1. Lingkungan social primer, yaitu lingkungan yang anggotanya saaling kenal.
2. Lingkungan social sekunder, yaitu lingkungan yang hubungan antar anggotanya bersifat longgar.

Ø  Hubungan-hubungan inteligensi:

·         Inteligensi Berkorelasi dengan "Head size"
Hubungan antara ukuran kepala dengan IQ sudah cukup lama menjadi subyek kontroversi. Tetapi penelitian dengan teknik neuroimaging membuktikan bahwa volume otak berkorelasi dengan IQ. Bukti ini didapat dengan mengukur ukuran helm tentara AS yang sedang mengikuti training dan dibandingkan dengan IQ-nya. Walaupun demikian korelasi tersebut cukup kecil.

·         Inteligensi dengan "Birth Order"
Kepercayaan bahwa anak pertama lebih cerdas dibandingkan anak berikutnya sudah lama menjadi kebenaran di masyarakat. Tetapi penelitian di AS membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara urutan kelahiran dengan inteligensi. Anak-anak yang lahir duluan dalam urutan kelahiran tidak mempunyai perbedaan IQ yang signifikan dengan anak-anak yang lahir belakangan.

Sedangkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim Norwegia menemukan anak pertama, dan mereka yang kehilangan saudara lebih tua, sehingga kemudian menjadi yang tertua, mencatat skor lebih tinggi dalam tes intelegensi.

Adanya hubungan ini ditemukan setelah para peneliti mengkaji data dari 250 ribu tentara Norwegia, demikian BBC. Laporan tersebut dimuat_dalam_jurnal_Science. Selama berpuluh-puluh tahun, para ahli tidak sependapat mengenai bagaimana urutan kelahiran berpengaruh terhadap intelektualitas dan pencapaian prestasi.

Mereka yang mendukung teori ini mengatakan anak-anak tertua biasanya mendapatkan perhatian serius dari orang tua mereka sejak usia dini.
Yang lainnnya berpendapat bahwa perbedaan disebabkan ketika janin berkembang di dalam perut ibunya, dengan kehamilan berikutnya, sang ibu akan menghasilkan antibodi yang bisa merusak otak bayi.
Sementara yang lainnya mengatakan bahwa hubungan antara urutan kelahiran dan intelegensi adalah hal yang tidak benar, atau bias karena besarnya jumlah keluarga, secara historis, pasangan dengan IQ yang lebih rendah cenderung memiliki anak-anak yang lebih tinggi IQnya.
Professor Petter Kristensen, di Institut Nasional Kesehatan di bidang Kerja di Oslo dan koleganya Tor Bjerkedal, di Jasa Layanan Kesehatan Angkatan Bersenjata Norwegia mengatakan walaupun perbedaan IQ yang mereka temukan sedikit saja, namun ini penting artinya.
Mereka juga mengatakan bahwa alasan di balik penemuan ini karena faktor sosial, bukan faktor biologi.

to be continue to the next pos ( berlanjut ke postingan berikutnya)


makalah ( pengaruh lingkungan dan bawaan terhadap IQ seorang anak) part 3




BAB III
A.    Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. kemampuan untuk berpikir abstrak
2. Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan
3. Kemampuan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru

Perumusan pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan berpikir. Perumusan kedua sebagai kemampuan untuk belajar dan perumusan ketiga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ketiga-tiganaya menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya
untuk berpikir dan belajar. Sejauh mana seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, dan cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan sebagainya mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula. Oleh karena itu, para ahli telah menyusun bermacam-macam tes inteligensi yang memungkinkan kita dalam waktu yang relatif cepat mengetahui tingkat kecerdasan seseorang. Inteligensi seseorang biasanya dinyatakan dalam suatu kosien inteligensi Intelligence Quotient(IQ).

B.     Karakteristik orang yang memiliki IQ tinggi

Orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi memiliki perbedaan karakteristik dengan orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual rendah.
Karakteristik orang yang memiliki IQ tinggi antara lain :
                                                                                                
  1. Berpikiran secara logis
Logis merupakan hasil pertimbangan akal pikiran yang diungkapkan lewat kata-kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logis bisa juga diartikan dengan masuk akal. Orang yang berpikiran secara logis pasti pemikirannya masuk akal.
2.      Rasional
Rasional adalah menggunakan nalar sebagai pertimbangan tertinggi untuk menentukan hal seperti pendapat, perbuatan, penilaian, dan sebagainya. Bukan dengan perasaan subjektif, rasional diambil dari bahasa inggris yaitu rational yang berarti dapat diterima oleh akal dan pikiran serta dapat ditalar sesuai dengan kemampuan otak. Hal-hal yang rasional adalah sesuatu hal yang di dalam prosesnya dapat dimengerti sesuai dengan kenyataan dan realitas yang ada.
3.      Sistematis
Sistematis adalah segala usaha untuk menguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat yang menyangkut objeknya.

  1. Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
Diantaranya adalah :
  1. Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
  1. Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai hal.

to be continue to the next post (berlanjut ke postingan selanjutnya)

makalah ( pengaruh lingkungan dan bawaan terhadap IQ seorang anak) part 4





BAB IV

PENUTUP

 KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah dibahas sebelumnya maka penulis menarik kesimpulan bahwa  Semua yang berkembang dalam diri individu ditentukan oleh pembawaan dan juga lingkungannya Sebagai kesimpulan dapat dikatakan perkembangan manusia kurang lebih ditentukan oleh pembawaan yang turun temurun, serta aktifitas atau penentuan manusia sendiri yang dilakukan dengan bebas di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan tertentu sehingga berkembang menjadi sifat-sifat. Setiap manusia memiliki kecerdasan otak (Intelligence Quotient).
IQ berupa keahlian (skill) dan pengetahuan yang memiliki aspek-aspek diantaranya kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, dan lain sebagainya.

Bahwa setiap siswa sekolah dasar tidak sama kecerdasannya itu semua dikarena tingkat IQ yang berbeda-beda. Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. 

to be continue to the next post (berlanjut ke postingan selanjutnya)

makalah ( pengaruh lingkungan dan bawaan terhadap IQ seorang anak) part 1



Makalah ini saya buat guna menyelesaikan tugas kuliah psikologi pendidikan saya, saya juga ingin berbagi 


dengan semuanya , semoga makalah ini bisa berguna bagi kita semua,,

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Tahap awal yang diperlukan seorang anak dalam pembelajaran sebenarnya selain dari faktor pembelajaran itu sendiri faktor dari IQ juga sangat penting.
IQ adalah hal paling dasar dimana ketika seseorang anak mempunyai kemampuan yang lebih, dalam hal berfikir. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap proses belajar anak tersebut, ketika dia menerima pembelajaran dari seorang guru dalam penyampaian materinya IQ sangatlah berpengaruh dalam kecepatan dia menangkap dan memahami pelajaran tersebut.
Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan Tingkat kecerdasan (Intelegensi)
bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan, termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang.
Kita lihat saja disebuah sekolah dasar dimana disebuah kelas terdapat perbedaan terhadap anak yang berIQ tinggi dengan yang berIQ rendah, dimana anak yang berIQ tinggi lebih cepat dan mudah dalam memahami penyampaian meteri tersebut. Sedangkan pada anak yang berIQ rendah mungkin juga dapat menerima sebuah materi tetapi kecepatan dan ketepatan pasti berbeda dengan anak yang berIQ tinggi, mereka cenderung lebih lamban dalam penerimaanya.
Lingkungan dan hereditas (nature dan nuture) ikut berperan penting dalam pembentukan IQ seorang anak. Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
B. Identifikasi Masalah
  Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :
  1. Mengetahui makna IQ
  2. Faktor-faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi IQ
  3. Bagaimana karakteristik orang yang memiliki tingkat IQ?
  4. Bagaimana peranan IQ dalam proses perkembangan anak pada siswa sekolah dasar?
  5. Bagaimana cara pengukuran IQ?

C. Tujuan
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas maka penulis bertujuan sebagai berikut:
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
  1. Untuk memenuhi tugas pada mata kuliah psiklogi pendidikan dan untuk memperoleh nilai.
  2. Mampu memahami dan menjelaskan pengaruh IQ dalam perkembangan anak
  3. Dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
D. Manfaat
Manfaat penelitian yaitu memberikan sumbangan pengetahuan yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu psikologi khususnya psikologi anak dan psikologi pendidikan serta diharapkan pula informasi ini dapat membuka jalan bagi penelitian-penelitian lain mengenai pengaruh IQ terhadap perkembangan anak

makalah ( pengaruh lingkungan dan bawaan terhadap IQ seorang anak) part 2




BAB II
PEMBAHASAN
Kecerdasan merupakan salah satu anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia, dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasan, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin komplek, melalui proses berpikir dan belajar secara terus menerus.

Ø  Pengertian Intelligence Quotient (IQ)

intelligence quotient (iq) atau kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. kecerdasan ini merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan, dan mengolah  informasi menjadi fakta. iq juga dapat berarti kecepatan otak seseorang dalam menangkap dan mencerna sesuatu.
kecerdasan ini digagas pada sekitar tahun 1912 oleh william strern. digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada saat itu. kecerdasan ini terletak di otak bagian cortex (kulit otak). memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif atau biasa disebut kecerdasan intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh charles spearman (1904) dengan teori “two factor” atau thurstone (1938) dengan teori “primary mental abilities”. dari kajian ini, menghasilkan pengelompokan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk intelligence quotient (iq) yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemempuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori idiot sampai dengan genius. istilah iq mula-mula diperkenalkan oleh alfred binet, ahli psikologi dari prancis pada awal abad ke-20. kemudian, lewis terman dari universitas stanford berusaha membakukan tes iq yang dikembangkan oleh binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi, sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes stanford binet.
Sampai sekarang metode tes IQ masih digunakan terutama seperti yang pertama kali diharapkan oleh Binet untuk keperluan membantu para pelajar yang memerlukan pelajaran tambahan dan perhatian ekstra. Namun sejarah membuktikan bahwa metode ini bergerak lebih jauh lagi d
alam mempengaruhi aspek-aspek potensi setiap individu.
Saat itu IQ yang merefleksikan kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi-situasi praktis dalam hidupnya (aspek kecerdasan sebagai problem solving capability), dianggap sebagai satu-satunya komponen yang paling berharga. Pandangan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teori kecerdasan abad ke-19, paduan antara sains dan sosiologi yang dipelopori oleh sepupu Charles Darwin, Francis Galton, pada akhir abad ke-19 secara terpisah dari apa yang dikerjakan Binet saat itu. Ketika itu juga berkembang paham eugenios yang meyakini bahwa kecerdasan pada umumnya diwariskan lewat garis keturunan dan oleh karena itu orang-orang yang kurang cerdas harus didorong agar tidak melakukan reproduksi. Gerakan ini juga menggunakan IQ sebagai metode justifikasinya.
Metode ini lama kelamaan mendapat sorotan dari para ahli dan sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaharui, yaitu :
Pemahaman absolute terhadap skor IQ
Stave Hallam berpandangan bahwa pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bias diubah adalah tidak tepat. Penumuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya 58% merupakan hasil dari proses belajar.
Menurut Stave Hallam bahwa pandangan tersebut tidak tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam.
IQ (Intelligence Quotient). Namun pada saat ini, anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya bertumpu pada dimensi intelektual saja sudah tidak berlaku lagi. Selain IQ, manusia juga masih memiliki dimensi kecerdasan lainnya yaitu : kecerdasan emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan kecerdasan spiritual atau SQ (Spiritual Quotient). Kecerdasan manusia ternyata lebih luas dari anggapan yang dianut selama ini. Kecerdasan manusia bukanlah merupakan suatu hal yang bersifat dimensi tunggal semata, yang hanya bias diukur dari satu dimensi saja (dimensi IQ). Kesuksesan manusia dan juga kebahagiannya, ternyata lebih terkait dengan kecerdasan selain IQ. Menurut hasil penelitian, setidaknya 75% kesuksesan manusia lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan hanya 4% yang ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya (IQ).

Ø  Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat IQ pada seseorang

 FAKTOR BAWAAN DAN FAKTOR KETURUNAN
v  Pengaruh bawaan
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkorelasi tinggi (± 0,50). Di antara kembar korelasi sangat tinggi (± 0,90), sedangkan di antara individu-individu yang tidak bersanak saudara korelasinya rendah sekali (± 0,20).
Bukti lain dari adanya pengaruh bawaan adalah hasil-hasil penelitian terhadap anak-anak yang diadopsi. IQ mereka ternyata masih biokorelasi tinggi dengan ayah/ibu yang sesungguhnya (bergerak antara + 0,40 sampai + 0,50). Sedang korelasi dengan orangtua angkatnya sangat rendah (+ 0,10 sampai + 0,20).
Selanjutnya, studi terhadap kembar yang diasuh secara terpisah juga menunjukkan bahwa IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa walau lingkungan berpengaruh terhadap taraf kecerdasan seseorang, tetapi banyak hal dalam kecerdasan itu yang tetap tak berpengaruh.
v  Faktor lingkungan

  1. Pengertian
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Intelegensi). Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang).
B. Faktor-Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Inteligensi

1. Faktor Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan faktor pendukung terpenting bagi kecerdasan anak. Dalam lingkungan keluargalah anak menghabiskan waktu dalam masa perkembangannya. Pengaruh lingkungan rumah ini berkaitan pula dengan masalah:

Stimulasi:
Untuk menjadikan anak cerdas, faktor stimulasi menjadi sangat penting, baik yang berkaitan dengan fisik maupun mental/emosi anak. Orang tua dapat memberikan stimulasi sejak buah hatinya masih dalam kandungan, saat lahir, sampai dia tumbuh besar. Tentu saja dengan intensitas dan bentuk stimulasi yang berbeda-beda pada setiap tahap perkembangan. Contohnya ketika masih dalam kandungan, stimulasi lebih diarahkan pada indra pendengaran menggunakan irama musik dan tuturan ibu atau ayah. Setelah anak lahir, stimulasi ini diperluas menjadi pada kelima indra maupun sensori-motoriknya. Begitu juga stimulasi lainnya yang dapat merangsang dan mengembangkan kemampuan kognisinya maupun kemampuan lain.
Secara mental orang tua juga menstimulasi anak dengan menciptakan rasa aman dan nyaman sejak masa bayi. Caranya? Dengan mencurahkan kasih sayang, menumbuhkan empati dan afeksi, disamping memberi stimulasi dengan menanamkan nilai-nilai moral dan kebajikan secara konkret. Stimulasi yang diberikan secara efektif jelas dapat membuat potensi kecerdasan anak mencapai titik maksimal.

Pola Asuh:
Pola asuh orang tua yang penuh kasih sayang diyakini dapat meningkatkan potensi kecerdasan si anak. Sebaliknya, tidak adanya pola asuh hanya akan membuat anak bingung, stres, dan trauma yang berbuntut masalah pada emosi anak. Dampaknya, apa pun yang dikerjakannya tidak akan pernah membuahkan hasil maksimal.

2.      Faktor Social Economi

a) Sosial ekonomi keluarga
           Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis hingga pemilihan sekolah, dan kurang mendapatkan nutrisi yang memadai pula. Begitu juga sebaliknya dengan sosial ekonomi yang kurang memadai, seseorang juga kurang mendapatkan kesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang baik dan nutrisi yag baik.

b). Pendidikan orang tua
          Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.

3.       Faktor Education

          Yang pasti kecerdasan dalam diri anak tidak muncul begitu saja. Di luar potensi yang diberikan, sebetulnya cerdas juga berarti ketekunan memelajari sesuatu. Selain pendidikan yang diberikan orang tua di rumah, peran sekolah juga tidak kalah besar. Boleh dibilang sekolah merupakan rumah kedua bagi anak yang memungkinkannya mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai kehidupan.

Ø  Salah satu teori yang berhubungan dengan IQ adalah :

Teori konvergensi
Teori ini berasal dari ahli psikologi bangsa Jerman bernama William Louis Stern. Asumsi teori ini berdasar eksperimennya terhadap dua anak kembar yang memiliki sifat keturunan yang sama, namun setelah dipisahkan dalam linkungan yang berbeda anak kembar tersebut ternyata memiliki sifat yang berbeda.
Teori ini merupakan teori gabungan (konvergensi) dari teori nativisme dan teori empirisme.
Isi teori konvergensi: factor pembawaan maupun pengalaman atau lingkungan mempunyai peranan yang penting dalam mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu.
Perkembangan individu akan ditentukan baik oleh factor yang dibawa sejak lahir (factor endogen) maupun factor lingkungan, termasuk pengalaman dan pendidikan (factor eksogen).

FAKTOR ENDOGEN
Factor endogen adalah factor atau sifat yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga saat dilahirkan (factor keturunan atau factor bawaan). Faktor endogen meliputi factor-faktor sebagai berikut :
• Factor kejasmanian
Factor pembawaan yang berhubungan erat dengan keadaan jasmani pada umumnya tidak dapat diubah begitu saja, dan merupakan factor dasar dalam ciri fisik individu.
Factor kejasmanian misalnya warna kulit, warna dan jenis rambut, rupa wajah, golongan darah, dan sebagainya.

• Factor pembawaan psikologis (temperamen)
Temperamen merupakan sifat-sifat pembawaan yang erat hubungannya dengan struktur kejasmanian seseorang, yang berhubungan dengan fungsi fsiologik seperti darah, kelenjar-kelenjar, cairan-cairan lain yang terdapat dalam diri manusia.
Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak merupakan keseluruhan dari sifat seseorang yang nampak dalam perbuatannya sehari-hari, sebagai hasil bawaan maupun lingkungan. Temperamen bersifat konstan, sedangkan karakter atau watak bersifat tidak konstan, dapat berubah-ubah sesuai dengan pengaruh lingkungan.

• Factor bakat (aptitude)
Bakat bukanlah sesuatu yang telah jadi dan terbentuk pada waktu individu dilahirkan, tetapi baru merupakan potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke suatu arah. Supaya potensi tersebut teraktualisasikan dibutuhkan kesempatan untuk mengaktualisasikan bakat-bakat tersebut. Disinilah dukungan lingkungan yang baik diperlukan dalam perkembangan individu.

FAKTOR EKSOGEN
Factor eksogen adalah factor yang datang dari luar diri individu, berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan, dan sebagainya.
Perbedaan antara pendidikan dengan lingkungan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan. Pendidikan bersifat aktif, dijalankan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab, dan secara sistematik memang mengarahkan pada pengembangan potensi-potensi atau bakat-bakat yang ada pada individu sesuai dengan tujuan pendidikan.

Sedangkan pada umumnya lingkungan bersifat pasif dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan pengaruhnya secara paksa kepada individu. Lingkungan hanya menyediakan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu. Tergantung pada individu yang mau menggunakan kesempatan dan manfaat yang ada atau tidak. Sikap individu terhadap lingkungan dibagi dalam tiga kategori, yaitu:

1. Individu menolak lingkunagn jika tidak sesuaidengan yang ada dalam diri individu.
2. Individu menerima lingkungan jika sesuai dengan yang ada dalam diri individu.
3. Individu bersikap netral.

Lingkungan yang memiliki peranan dalam perkembangan individu terbagi dalam beberapa kategori, yaitu:
• Lingkungan fisik ; berupa alam seperti keadaan alam atau keadaan tanah serta musim.
• Lingkungan social ; berupa lingkungan tempat individu berinteraksi.
Lingkungan social dibedakan dalam dua bentuk :
1. Lingkungan social primer, yaitu lingkungan yang anggotanya saaling kenal.
2. Lingkungan social sekunder, yaitu lingkungan yang hubungan antar anggotanya bersifat longgar.

Ø  Hubungan-hubungan inteligensi:

·         Inteligensi Berkorelasi dengan "Head size"
Hubungan antara ukuran kepala dengan IQ sudah cukup lama menjadi subyek kontroversi. Tetapi penelitian dengan teknik neuroimaging membuktikan bahwa volume otak berkorelasi dengan IQ. Bukti ini didapat dengan mengukur ukuran helm tentara AS yang sedang mengikuti training dan dibandingkan dengan IQ-nya. Walaupun demikian korelasi tersebut cukup kecil.

·         Inteligensi dengan "Birth Order"
Kepercayaan bahwa anak pertama lebih cerdas dibandingkan anak berikutnya sudah lama menjadi kebenaran di masyarakat. Tetapi penelitian di AS membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara urutan kelahiran dengan inteligensi. Anak-anak yang lahir duluan dalam urutan kelahiran tidak mempunyai perbedaan IQ yang signifikan dengan anak-anak yang lahir belakangan.

Sedangkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim Norwegia menemukan anak pertama, dan mereka yang kehilangan saudara lebih tua, sehingga kemudian menjadi yang tertua, mencatat skor lebih tinggi dalam tes intelegensi.
Adanya hubungan ini ditemukan setelah para peneliti mengkaji data dari 250 ribu tentara Norwegia, demikian BBC. Laporan tersebut dimuat_dalam_jurnal_Science. Selama berpuluh-puluh tahun, para ahli tidak sependapat mengenai bagaimana urutan kelahiran berpengaruh terhadap intelektualitas dan pencapaian prestasi.
Mereka yang mendukung teori ini mengatakan anak-anak tertua biasanya mendapatkan perhatian serius dari orang tua mereka sejak usia dini.
Yang lainnnya berpendapat bahwa perbedaan disebabkan ketika janin berkembang di dalam perut ibunya, dengan kehamilan berikutnya, sang ibu akan menghasilkan antibodi yang bisa merusak otak bayi.
Sementara yang lainnya mengatakan bahwa hubungan antara urutan kelahiran dan intelegensi adalah hal yang tidak benar, atau bias karena besarnya jumlah keluarga, secara historis, pasangan dengan IQ yang lebih rendah cenderung memiliki anak-anak yang lebih tinggi IQnya.
Professor Petter Kristensen, di Institut Nasional Kesehatan di bidang Kerja di Oslo dan koleganya Tor Bjerkedal, di Jasa Layanan Kesehatan Angkatan Bersenjata Norwegia mengatakan walaupun perbedaan IQ yang mereka temukan sedikit saja, namun ini penting artinya.
Mereka juga mengatakan bahwa alasan di balik penemuan ini karena faktor sosial, bukan faktor 
biologi.

to be continue to the next post (berlanjut ke postingan selanjutnya)

Thursday, March 17, 2011

SB TWEENTY FOUR






















Bumi,  mungkin
itu sebutan dari sebagian bangsa indonesia bagi planet ini, planet yang begitu
indah dan penuh dengan segala kesuburan. Tapi apakah hanya bumi sebutan untuk
planet ini bagi bangsa Indonesia? Tentunya tidak, dikarenakan bangsa Indonesia sendiri  terdiri dari banyak suku dan banyak bangsa,
nama planet ini pun tidak hanya bumi yaitu disesauikan dengan sebutan suku atau
bangsa tersebut. Contohnya bagi orang jawa bumi disebut dengan jagad,sedangkan
bagi orang sunda,batak dan ambon juga tentunya memiliki bahasanya tersendiri
untuk bumi


Ternyata tidak hanya pada kalangan Indonesia saja
keberagaman terjadi pada penamaan planet ini, tetapi ternyata terjadi pada
seluruh dunia, bumi mempunyai panggilan yang berbeda bagi satu Negara dengan 


Negara lain sebut saja dibelanda dia mempunyai sebutan aarde, diperancis terre, dispanyol
la
tierra
dan


diturki  sendiri
adalah toprak


Dengan keberagaman nama planet ini bagi Indonesia
dan dunia, saya juga sangat tertarik untuk memberi nama baru bagi planet ini,
nama baru bagi bumi itu sendiri adalah SB twenty four (some blue twenty four),
saya sangat tertarik dengan nama tersebut dengan berbagai alasan yang telah
saya pertimbangkan.  SB tweenty four
sendiri mempunyai arti SB (some blue) yang berarti beberapa biru, kenapa
demikian? Menurut saya bumi itu terdiri lebih dari 70%nya adalah laut yang
tentunya berwarna biru, bumi sendiri juga kalo dilihat dari luar angkasa
berwarna biru itu tentunya yang menjadi alas an utama saya.


Dan twenty four yang berarti 24,maksud saya sendiri
dari 24 itu adalah dimana lama rotasi bumi selama satu hari. 24 juga juga
menjadi waktu yang sangat penting bagi segala jadwal manusia


Dengan sebutan nama baru tersebut saya berharap bisa
digunakan pada masyarakat Indonesia bahkan dunia. SB twenty four is ready to
become the newer name of bumi.





Thursday, March 10, 2011

Sebut dia sang pemberi kehidupan



Dia adalah pusat tata surya kita. dia sendiri adalah sebuah bintang, dan Bintang yang satu ini sangat istimewa karena dia memberikan peranan yang begitu besar kepada galaxy beserta isinya. dia juga menjadi tempat poros planet-planet berputar, tanpa dia pasti galaxy bimasakti akan rusak karena tidak ada aturan tidak ada poros atau orbit yang mengatur perputaran planet-plenet tersebut.
dan bintang itu sendiri adalah matahari,
jika anda bertanya kenapa matahari yang menjadi topik saya?
Iya kali ini,, saya begitu tertarik untuk mengulasnya.. matahari yang sering kita lihat juga ternyata mempunyai banyak keunikan, didalamnya juga ternyata tak semudah yang selalu difikirkan.kita hanya selalu berpendapat matahari hanyalah bola api saja.
Matahari sangat begitu kompleks, dia tersusun atas beberapa senyawa , bentuknya yang unik serta jaraknya yang begitu jauh membuat kekomplesanya tak terlihat begitu jelas dari bumi apalagi jika kita lihat dengan mata telanjang.

Berikut ini sekilas fakta-fakta menarik tentang matahari :

1. Diameter Matahari sekitar 1.390.000 km. Sementara diameter Bumi sekitar 12.740 km.

Nah, bila Bumi dimasukkan dalam Matahari, Matahari bisa menampung sebanyak 109 Bumi. Ngga kebayang kan gedenya seberapa!!!

2. Suhu inti Matahari berkisar dari 15.000.000 derajat Celsius pada inti dalam, sedangkan pada inti luar suhu mencapai 7.000.000 derajat Celsius. Dan suhu pada permukaan matahari 'hanya' 6.000 derajat Celsius. Ini juga ngga kebayang gimana panasnya, kita aja di Bumi dengan suhu 35-40 derajat Celcius aja sudah kepanasan,

3. Lontaran massa korona (CME) tercepat yang teramati manusia terjadi pada 4 Agustus 1974, menjalar dari matahari ke bumi dalam waktu 14,6 jam dengan kecepatan hampir 10.000.000 km/jam.

Apa itu korona? Korona adalah bagian terluar dari atmosfer matahari. Korona luasnya beberapa juta mil dan suhunya mencapai 1.000.000 derajat Celcius. Lubang di korona terjadi ketika medan magnet matahari melompat ke angkasa.

Lubang korona inilah yang memungkinkan terjadinya angin matahari, aliran partikel energi yang menembus ke tata surya. Korona dan kromosfer hanya bisa diamati dengan teleskop khusus yang disebut kronagraf.

4. Adakalanya solar flares memanaskan permukaan matahari sampai 80.000.000 derajat Fahrenheit, yang berarti jauh lebih panas dari inti matahari. Solar flares adalah badai magnetik yang terjadi di permukaan matahari.

Awalnya, badai ini terlihat seperti titik yang sangat terang sebelum akhirnya meledak. Solar flares menghasilkan partikel energi yang sangat banyak dan gas dengan suhu tinggi yang dilepaskan ribuan mil dari permukaan matahari.

5. Prominensa (lidah api yang melengkung) bisa mencapai jarak 200.000 hingga 300.000 km pada korona matahari. Prominensa bisa berlangsung beberapa hari. Bila meledak, bisa memberi tambahan energi terhadap angin matahari.

6. Antara 10-12 Mei 1999, hampir tidak ada angin matahari. Hal ini menyebabkan magnetosfer bumi mengembang volumenya hingga lebih dari 100 kali.

Apa itu angin matahari? Angin matahari adalah pancaran aliran ion (partikel bermuatan) yang tak terputus oleh lubang korona. Angin matahari terpancar ketika medan magnet matahari melompat ke luar angkasa.

Dalam foto sinar X matahari, lubang korona tampak berwarna hitam dan bisa bertahan beberapa bulan atau tahunan. Angin matahari membutuhkan waktu sekitar 4,5 hari untuk mencapai bumi. Angin matahari menyebabkan ekor komet menjauh dari matahari dan terjadinya aurora di bumi dan planet lain.


7. Pada April 1947, bintik matahari mencapai ukuran maksimalnya sepanjang sejarah. Ukurannya lebih dari 330 kali luas Bumi.

Apa itu bintik matahari? bintik matahari adalah flek-flek yang berwarna hitam yang berada di kulit terluar matahari. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam. Meski terlihat seperti sebuah titik di matahari, sebenarnya ukurannya sangat besar, bahkan lebih besar daripada bumi. Bahkan ada bintik matahari yang ukurannya 10 kali diameter bumi.

8. Pada 13 Maret 1989, wilayah Quebec Kanada mengalami padam listrik total karena badai geomagnetik. Perekonomian Kanada waktu itu mengalami kerugian sebesar US $ 6 Milyar.

9. Iklim Bumi menjadi lebih dingin pada tahun 1645-1715. Hal ini disebabkan karena bintik matahari yang siklusnya 11 tahunan tidak teramati.

10. Luas permukaan matahari = 11.900 kali luas permukaan bumi.

11. Massa matahari = 332,946 kali massa bumi

12. Jarak dari bumi adalah 8,31 menit kecepatan cahaya.

13. Dalam waktu 1 detik, matahari mengubah 4 juta ton bahan murni menjadi energi murni.

Dan itulah beberapa fakta tentang matahari, semoga pengetahuan ini sangatlah berguna bagi kita.